Sabtu, 11 Februari 2017

[Review Novel] Pada Senja yang Membawamu Pergi, karya Boy Candra



Judul : Pada Senja yang Membawamu Pergi
Penulis : Boy Candra
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2016 (cetakan pertama)
Jumlah Halaman : vii + 248 hlm
Blurb :
Apakah kau ingat saat kita berjanji untuk saling membahagiakan?
Katamu, setiap perasaan yang tumbuh adalah sebuah alasan. Alasan bahwa hati patut dipertahankan. Namun, cinta saja belum cukup menyatukan mimpi yang berbeda di antara kita. Dan, menepati janji ternyata tak semudah mengucapkannya.
Apakah kau juga tahu bahwa kenangan bersamamu selalu muncul tiba-tiba? Tak ada satu perasaan pun yang mampu kusembunyikan ketika mengingatmu.
Namun, aku sadar. Harapan-harapan yang dulu sempat memudar, harus kubangun lagi dan kumulai. Bukankah tak salah bila aku ingin mengulang rasa yang dulu pernah ada? Meski kutahu, rasa itu tak akan benar-benar sama.
Karena, cinta bukan tentang bagaimana rasa itu jatuh, melainkan bagaimana ia tetap bisa hidup di dada yang rapuh.

Makka Na Ito


source. google

 Hujan menyisakan gerimis di langit Jakarta sore itu. Kemacetan yang mengular panjang sudah menjadi makanan hari-hari bagi pengguna jalan di kota-kota besar. Hampir saja Najma menabrak bagian belakang mobil di depannya, jika ia tak cepat-cepat mengubah persneling dari D ke P. Ponsel yang sengaja diletakkan pemiliknya di kursi yang berdampingan dengan kursi pengemudi itu tiba-tiba ikut menyeruakan suara di antara klakson-klakson mobil yang berteriak.
Najma menggeser layar ponsel dengan cepat, setelah menyadari siapa yang menelponnya. “Iya, aku masih di jalan. Kututup, ya, enggak baik kan mengemudikan mobil sambil menerima telepon,” terangnya kemudian menutup ponsel secara sepihak.

Langit Belum Sempurna


source. google

When i miss you, Dad...
Lembayung senja menguasa di kaki langit, ketika kelas sudah dipulangkan. Angin sore menjadi teman bisu gadis berkucir kuda itu menyusuri jalanan menuju ke rumahnya
Tungkai kaki Bianca berhenti bergerak, tali salah satu sepatu kets-nya terlepas. Jemarinya segera menalikan. Selesai. Dan… baru gadis itu menaikkan kepala, matanya langsung terarah pada sedan hitam yang ada di sebrang jalan. Berhenti tepat di depan rumahnya.

Jumat, 10 Februari 2017

Bersama Desember


source. google


Desember, 18-2014 
Sekali lagi ia mematut diri di depan cermin. Pantulan di dalam gambarnya membisu, sama halnya dengan orang yang sedang memandangnya. Wajah oriental dengan sapuan bedak tipis itu tampak semakin pucat. Dan setelan dress bridesmaid berwarna peach yang membalut tubuhnya terlihat lebih longgar dari sebelumnya.
Serena tertunduk. Berharap setelah ini tak ada lagi tumpahan air mata. Bayangan lain yang terpantul di cermin seolah menangkap kerapuhannya saat ini. Aluna berjalan mendekat, ia menarik tubuh gadis itu dan satu rengkuhan seorang sahabat diberikan kepada Serena. Seberapa kuat gadis itu menahan cairan bening itu untuk tidak keluar, tapi tetap saja … air mata itu akan jatuh walau setitik. Perih itu semakin deras.
“Kamu bisa, Dear,” bisik Aluna di telinga Serena. Ia mengusap-usap pelan punggung sahabatnya itu untuk beberapa saat, lantas melepaskan pelukannya. “Ini hari spesial untuk sang mempelai pria. Kau tak ingin melihat yang dicinta bahagia?” Aluna menangkupkan tangannya di pipi gadis itu sambil menghapus jejak air mata yang sempat menanggalkan perihnya di sana.
‘Tentu saja, Lun. Aku pasti ingin melihat orang yang pernah singgah di dalam hatiku itu bahagia. Walau kebahagiaan itu bercerita dengan kenyataan yang berbeda,’ batin Seren.

Aku dan Tahap Ini

source. google
Cinta yang membutakan?
Atau… aku yang membuat cinta itu buta.
 Mataku terpejam lembut, tat kala rinai hujan mulai membasahi kaca jendela tempatku bekerja. Di sini, tempatku mengabdi setelah setahun lalu diwisuda sebagai salah satu mahasiswi lulusan  Kedokteran di sebuah Universitas Negeri. Rumah Sakit Medica Center. Aku bersandar pada tepian jendela sambil menatap keadaan kota kelahiran yang sepenuhnya telah diguyur oleh hujan. Samarinda.
Perlahan, bau hujan yang menguar dibawa oleh angin masuk ke dalam ruanganku yang berada di lantai lima. Sembilu dingin mulai menjalari dan entah kenapa, terasa seperti dibumbui lara yang berusaha ikut meluap ke permukaan. Hujan. Satu hal sederhana yang mampu mengingatkanku pada nyanyian luka, meski tidak semua orang beranggapan seperti itu.

Rinai Hujan

source. google
Saat keramahan cinta itu tak pernah kutemukan, aku hanya bisa diam. Menanti langit tertawa setelah hujan menemani.
Kalian boleh menyebut ini sebagai obsesi. Tapi bagaimana jika aku menampiknya, dan mengatakan ini lah cinta yang sesungguhnya. Kuhirup napas dunia yang menghambur di sekelilingku. Berusaha menahan rindu di setiap harinya, di antara langit biru yang mulai meniti ulaman kelabu.

Upacara bendera hari senin hampir mencapai acara puncaknya, sorot mataku juga tak lepas dari gerakan baris-berbaris kelompok pengibar bendera. Pakaian putih-putih lengkap dengan topi juga dasi mendominasi di sekelilingku. Tak lain, ini lah murid-murid SMA Negeri 6 Samarinda.

“Hawanya enggak enak,” aku bersuara lirih. Alih-alih memancing Rindu yang kebetulan berdiri di sebelahku. Logisnya, suasana pagi ini memang terlihat kurang bersahabat. Langit terlihat mendung, tapi hawa yang dihantarkan terasa panas dan cukup membuat keringat meretas dari pori-pori kulit.

Selamat Ulang Tahun

source. google

Selimut pagi ini tak lagi biru dengan warna keemasan cakrawala yang tersibak. Kapas putih itu berubah menjadi rajutan kelabu. Menghapus keinginan cerita pagi yang cerah. Berubah sedemikian rupa, menjadi fluida-fluida yang bercucuran dari atas langit. Bertumbukan pada jalan yang kasar pada akhirnya.

Sejenak, aku menatap peristiwa alam yang terjadi di luar sana. Akan tetapi, sebuah kaca berpetak membatasi antara aku dan hujan. Lamat-lamat, semakin aku memperhatikannya, seperti ada bisikan kecil yang mulai mengganggu. Mungkin itu jeritan lukaku di dalam hati. Terlalu lama aku memerhatikan hujan, membuat diriku menciptakan bayangan seseorang di otak.


Cinta itu Sederhana

source. google
Sesederhananya sebuah cinta
Paling sederhana adalah cinta kedua orang tua
Kesederhanaan yang bukan berarti dalam hal kemiskinan
Melainkan, penuhnya kekayaan cinta yang mereka berikan
Hingga hampir tak tau bagaimana caraku sebagai anak membalas itu semua

Kecuali...
Belajar memberikan cinta sederhana juga, yang tidak perlu bermuluk-muluk
Cinta itu sederhana, tapi indah selamanya.

[Samarinda, 2015]

Hanya Menunggu

source. google


Menatap luas tak terbatas
Menghayati setiap jengkal ruang lingkup cakrawala
Awan-awan putih mulai berarak, layaknya kapas yang menari sesuka hati mereka
Menebar diri dengan senang hati, menghias langit biru pelindung bumi

Deburan ombak beriak-riak beriringan
Angin pantai membelai lembut setiap ruang wajah yang mulai bermandikan peluh
Kuembuskan lembut napas yang kuhirup cuma-cuma
Menggores senyum perih di atas luka yang telah lama mengaga

Kembali menghayati setiap perjalanan hidup penuh luka
Mengais masa kelam dan bahagia
Detik demi detik... ku lalui tak percuma
Meski kedua mata yang berbinar mulai tenggelam dalam air mata luka
Ketulusan sebuah cinta yang datang dari sebuah hati
Menanti sebuah pengharapan kosong sekian lama
Layaknya kapas putih yang tertiup angin tak tau arah
Mengikuti arus air di setiap jalannya

Cintaku tak berkunjung pasti
Memiliki penantian sekian tahun
Bisakah dia mengerti?
Bagaimana cara hati mencintai

Menimbun luka tak berdaya
Hanya senyum palsu yang penuh dusta
Cinta… kapan kau mengerti?
Akan ketulusan hati ini

Menanti dengan senang hati
Meski hati terus tersakiti
Hingga detik ini... tak pernah ku temui sebuah alasan
Kenapa aku begitu mencintaimu
Bahkan tak ada sepucuk kata untuk sebuah alasan
Agar hati ini bisa berhenti mencintai

Cinta yang tak abadi
Menaruh hati kepada sosok diri yang tak pasti untuk dimiliki
Aku mencintaimu secara pribadi.

[Samarinda, 2015]

Sabtu, 10 Desember 2016

First


source. google
Dalam semburat cahaya nista, hatiku selalu berdesir kala sepasang iris mata cokelatmu berusaha menggapai mataku. Kedua sudut bibir yang tertarik melukiskan sebuah senyum, membuahkan semu merah di pipiku meski aku tidak tahu, untuk siapa senyum itu.

Bukan cinta namanya, jika aku tak pernah berkorban untukmu. Dikala sembilu ngilu dalam hatiku, aku hanya berusaha mendekap dunia untuk membukakan segurat celah agar kau juga tahu bagaimana rasanya yang mencintaimu.

Kala dusta menertawakan cintaku, aku hanya berusaha agar bubuhan tinta di atas perkamen hati ini tidak pudar termakan waktu. Secara sederhana aku dapatkan rasa cintaku padamu, dan Tuhan menjadikanmu yang pertama.

Dimuat dalam Antologi UCAP (Ungkapan Cinta Ala Penyair) #1 Penerbit Meta Kata

Rabu, 10 Februari 2016

Love Inside

source. google
Malam mengintip dari celah jendela. Jemari lentiknya mulai memainkan sebuah teknologi canggih abad ini. Membuka sebuah situs jejaring sosial yang tidak pernah terlewatkan di setiap harinya, sudah seperti menjadi rutinitas untuk seorang murid sekolahan pada umumnya.


Ziya mengulum senyum bersamaan, setelah membaca status milik seseorang di akun jejaring sosial facebook. Yohan Dwi Kusuma. Lalu, ia menghempaskan tubuh di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya penuh bahagia. Tangan kirinya masih menggenggam erat sebuah PC tablet yang digunakannya untuk online.

Senin, 01 Juni 2015

Harus Kuakui

cr. google


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Kentara dari bau embun yang masih menguar. Langkah-langkah pendek setengah berlari berpantulan di lorong SMA Negeri 6 Samarinda. Ini sudah memasuki jam pertama pelajaran, tapi guru Matematika Kenzi belum juga masuk kelas.
Kenzi yang memiliki tinggi 156 sentimeter, hanya bisa berjinjit-jinjit di jendela—memastikan keadaan di luar. Sepi. Murid kelas XII lainnya sudah masuk ke kelas mereka masing-masing.

“Enggak ada bapaknya, kah?” tanya suara dari balik tubuh Kenzi.

“Belom,” jawab Kenzi lalu duduk di kursinya—bersebelahan dengan asal suara tadi.
Aira hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Tidak hanya untuk kali ini, Aira menangkap basah Kenzi mengintip-ngintip keadaan di luar melalui jendela. Sudah sering dan Aira paham akan itu.

“Kamu enggak mau ikut main uno sama buhannya kah, Ken ?”

“Enggak, Ra. Lagi males.”

Hello, June!

cr. google


Segurat senyum singkat tertangkap dari retina mataku, senyum manis yang setiap kali mampu membuat sosok sepertiku terbius. Kaki-kaki di bawah sana bergerak lincah, menggiring bola dan tampak susah payah mencari mana kawan dan lawan. Selang beberapa menit, setelah perebutan bola yang sengit, seseorang baru saja mencetak gol yang seakan-akan menjadi kepuasaan tersendiri untuk dirinya.

Yohan Prayoga, nama pria itu. Dia dari kelas XI IPA 2. Dia memiliki senyum yang cukup berarti bagiku. Aku suka melihatnya, karena saat ia tersenyum matanya akan ikut tersenyum. Eyes smile.
Tangan-tanganku bersembunyi di balik saku blazer yang melapisi seragam sekolah. Anak rambutku dipermainkan oleh angina yang bertiup di siang hari. Ini Juni, dan aku merindukan saat-saat ini. Tahun ajaran baru. Saat aku mengenal apa itu cinta dari pria seperti dirinya. Dari dirinya lah aku mulai mengawali sebuah rasa yang biasanya dialami gadis remaja; cinta pertama.



Memandangnya dari jauh seperti ini, layaknya menatap bintang di setiap malam yang tidak tahu bagaimana cara untuk menggapainya.