Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2017

Cerita pada Hujan


Aku bercerita pada hujan
Dan buliran bening itu bergulir mengikuti setiap tetes hujan yang jatuh
Langit kelabu berusaha menerka
Apa yang sebenarnya terjadi pada sebongkah hati yang terus melayu
Ini tentang sebuah konspirasi hati
Bukan sekedar cerita putri cantik yang bertemu pangeran berkuda putih
Tentang cinta yang hadir tapi, tak pernah berpemilik
Cinta yang dihadirkan tanpa diminta
Cinta yang terus-terusan berakhir pada air mata
Cinta yang diabaikan
Ya, inilah cinta bertepuk sebelah tangan
Mengaggumi dari kejauhan, dan tanpa pernah tahu segaris senyum di bibirmu kau peruntukkan untuk siapa.

[Samarinda, 2017]

Jumat, 10 Februari 2017

Cinta itu Sederhana

source. google
Sesederhananya sebuah cinta
Paling sederhana adalah cinta kedua orang tua
Kesederhanaan yang bukan berarti dalam hal kemiskinan
Melainkan, penuhnya kekayaan cinta yang mereka berikan
Hingga hampir tak tau bagaimana caraku sebagai anak membalas itu semua

Kecuali...
Belajar memberikan cinta sederhana juga, yang tidak perlu bermuluk-muluk
Cinta itu sederhana, tapi indah selamanya.

[Samarinda, 2015]

Hanya Menunggu

source. google


Menatap luas tak terbatas
Menghayati setiap jengkal ruang lingkup cakrawala
Awan-awan putih mulai berarak, layaknya kapas yang menari sesuka hati mereka
Menebar diri dengan senang hati, menghias langit biru pelindung bumi

Deburan ombak beriak-riak beriringan
Angin pantai membelai lembut setiap ruang wajah yang mulai bermandikan peluh
Kuembuskan lembut napas yang kuhirup cuma-cuma
Menggores senyum perih di atas luka yang telah lama mengaga

Kembali menghayati setiap perjalanan hidup penuh luka
Mengais masa kelam dan bahagia
Detik demi detik... ku lalui tak percuma
Meski kedua mata yang berbinar mulai tenggelam dalam air mata luka
Ketulusan sebuah cinta yang datang dari sebuah hati
Menanti sebuah pengharapan kosong sekian lama
Layaknya kapas putih yang tertiup angin tak tau arah
Mengikuti arus air di setiap jalannya

Cintaku tak berkunjung pasti
Memiliki penantian sekian tahun
Bisakah dia mengerti?
Bagaimana cara hati mencintai

Menimbun luka tak berdaya
Hanya senyum palsu yang penuh dusta
Cinta… kapan kau mengerti?
Akan ketulusan hati ini

Menanti dengan senang hati
Meski hati terus tersakiti
Hingga detik ini... tak pernah ku temui sebuah alasan
Kenapa aku begitu mencintaimu
Bahkan tak ada sepucuk kata untuk sebuah alasan
Agar hati ini bisa berhenti mencintai

Cinta yang tak abadi
Menaruh hati kepada sosok diri yang tak pasti untuk dimiliki
Aku mencintaimu secara pribadi.

[Samarinda, 2015]